Pelajaran Dari Kematian

Sabtu, 17 Mei 2008 sore ketika saya berada di Garut, mampir dari Tasik usai mengikuti Manaqiban bulan Mei 2008 di Pesantren Suryalaya, terdengar berita dari salah satu stasiun Televisi tentang meninggalnya Bung Sophan Sopian – salah satu tokok politik di Indonesia yang juga seorang artis – dalam kecelakaan bermotor yang terjadi di Sragen.

 

Awalnya saya berencana untuk mengisi Blog tentang Pelajaran Dari Kematian ini, sebelum terdengarnya berita tentang kematian alm. Bung Sophan Sopian ini, ternyata waktu berjalan sangat begitu cepat, dalam hitungan detik per-detik, Sang Khalik ALLAH SWT memiliki kuasa penuh untuk mencabut setiap nyawa manusia kapanpun waktu yang diinginkan-NYA.

 

Mengapa saya berencana untuk menulis Blog tentang Pelajaran Dari Kematian ini sebelum adanya berita kematian alm. Bung Sophan Sopian ?,

 

Karena sebelumnya, saya telah mendapatkan 4 berita kematian orang-orang yang saya kenal, mereka pergi dipanggil oleh sang Khalik ALLAH SWT.

 

Adapun urutan berita kematian tersebut adalah sbb:

 

1.                  Jum’at, 9/5/2008 -           Bpk Agus Siregar (Kepala KAMTIB PP Suryalaya)

Saya dapatkan informasi dari website Suryalaya bahwa Bpk Agus Siregar meninggal dunia dinihari tadi sekitar jam 01.20 di PonPes Suryalaya. Beliau adalah Kepala Keamanan dan Ketertiban Pondok Pesantren Suryalaya, yang selalu mendampingi dan membantu Pangersa Abah dalam setiap kegiatannya

 

Padahal 1 minggu sebelumnya, Beliau ikut rombongan Pangersa Abah Ziarah Wali Sanga.

 

2.         Minggu, 11/5/2008           -           Bpk Mertuanya teman Istriku

Kami sekeluarga mendapatkan berita kematian ini, tepat akan berangkat ke Garut untuk mengantar anak-anak liburan sekolah. Saat itu ba’da dzuhur, kami sedang menunggu bis di depan komplek perumahan kami, sebelum bis itu datang, istriku mendapat telepon dari rekannya bahwa Bpk Mertuanya meninggal dunia, yang memang pada saat meninggal dunia, berada di RS Hasan Sadikin Bandung.

 

Mendapat berita itu, kami membatalkan untuk mengantar anak-anak ke Garut untuk liburan, sebagai gantinya yaitu nanti malam adik iparku akan menjemput Fairuz dan Fakhira pergi ke Garut. Sedangkan Fakhri tidak ikut ke Garut, karena besok harus masuk Sekolah.

 

Anak-anak akhirnya pulang kembali kerumah dijemput oleh Yana didepan gerbang komplek, sedangkan saya dan istri saya menuju komplek Budi Sari di Jl. Dr. Setiabudi untuk menuju rumah almarhum.

 

Saya dan istri pulang dari Budi Sari sekitar jam 21.30 wib dari sana, setelah semua tamu pulang, jenazah akan dimakamkan esok hari di Astana Anyar.

 

3.         Senin, 12/5/2008 -           Bu Sofie Simanjuntak (guru SMP-ku)

Senin petang usai jam kantor, sampai dikomplek perumahan Orang Tuaku, ketika memasuki jalan kea rah rumah Orang Tuaku, terlihat terpasang tenda di salah satu rumah, ternyata mantan guru SMP-ku yaitu Bu Sofie Simanjuntak meninggal dunia. Aku mampir melawat dan ketemu dengan rekanku yaitu Marasi  (Asi), yang merupakan anak dari alm. Bu Sofie guruku itu.

 

4.         Rabu, 14/5/2008  -           Mahasiswi-ku meninggal dunia

Sekitar jam 19.00-an, saat baru beberapa menit memberikan kuliah tentang Jaringan Komputer, beberapa mahasiswa minta izin kepadaku untuk meninggalkan kuliah, karena salah satu mahasiswi ada yang meninggal dunia, saat hendak berangkat kuliah petang tadi, jatuh dari motor yang dikendarainya, saya sampaikan insya Allah saya akan pergi melawat usai jam kuliah nanti.

 

Akhirnya sekitar jam 21.30 wib, saya dengan P. Suryanih (Dosen Akuntansi) pergi melawat ke rumah almarhum dan tiba di rumah sekitar jam 23.30 wib.

 

5.         Sabtu, 17/5/2008 -           Sophan Sopian meninggal dunia

Sore hari, saat beberapa menit tiba di Garut, usai Manaqiban di Suryalaya – Tasik, kudapatkan berita itu dari salah satu stasiun tv.

 

Ku merenung…, bermuhasabah…

 

Sedemikian cepatnya kejadian Kematian ini terjadi, hal ini menunjukkan bahwa sang Khalik ALLAH SWT memiliki kekuasaan penuh untuk mencabut nyawa setiap mahluk yang ada dimuka bumi ini, kapanpun waktu yang diinginkan-NYA…

 

Semoga dengan adanya deretan berita kematian ini semakin memperkokoh keimanan dan keyakinan kita (saya khususnya) untuk selalu beribadah dan mematuhi segala perintah Sang Pencipta ALLAH SWT, dan menjauhi seluruh larangannya (jangan iri, dengki, hasad, ghibah, munafik, dan perbuatan buruk lainnya).

 

Biarkan orang lain menyakiti kita dan  mendzalimi kita..

Jangan dibalas perbuatan buruknya kepada kita dengan perbuatan buruk kita kepadanya …

Kita serahkan segala urusan hanya kepada ALLAH SWT…

 

Hasbunallah Wani’mal Wakil – Ni’mal Maula Wani’man Nassir

 

6.         Saya ingin tambahkan lagi satu berita kematian yaitu, Selasa, 20/5/2008 kemarin Bang Ali Sadikin (mantan Gubernur DKI Jakarta) meninggal dunia di salah satu RS di Singapore….

 

 

Sungguh bahwasanya ALLAH SWT Maha Perkasa …!!! Dan Maha BerKehendak …!!!

 

21 Mei 2008

 

 

 

Nasi Uduk Betokaww…

Siapa sich yang gak kenal Nasi Uduk ? kita semua pasti kenal dan pernah mencicipinya. Mendengar namanya, bayangan kita teringat pada kepulan nasi putih berminyak (adapula Nasi Uduk yang kuning) yang diatasnya dilumuri sambel kacang, bihun, irisan telor dadar, potongan mentimun, dan bawang goreng.

 

Kita bisa makan Nasi Uduk…, kalau tidak Ibu kita yang buat, Istri kita, atau bahkan kita bisa membelinya dari para penjual yang banyak dijajakan di warung-warung tenda di pinggir jalan.

 

Bicara Nasi Uduk, pasti deh ada trade mark yang namanya Nasi Uduk Betawi, kalau judul di atas kenapa ditulis Nasi Uduk Betokaww…?, apa itu Betokaww…? Betokaww… artinya adalah Betawi, itu adalah bahasanya anak-anak prokem (gaul) tahun 80-an, satu contoh bahasa prokem lainnya adalah Nyokap (Ibu), Bokap (Bapak), Nyabak (banyak), Perwoken (Perawan), Toku (Tua), jadi kalau kita gabungkan kata ‘Perwoken Toku’ artinya adalah Perawan Tua (aya…aya…wae..).

 

Kembali lagi ke Nasi Uduk, koq bisa-bisanya diklaim namanya Nasi Uduk Betawi ? memangnya hanya orang Betawi saja yang punya Nasi Uduk ?, gak juga sich..,semua orang dari daerah lainpun juga bisa membuat Nasi Uduk berdasarkan selera masing-masing daerah, artinya adalah bumbu-bumbu yang digunakan disesuaikan dengan selera lidah masing-masing orang daerah yang bersangkutan.

 

Kesimpulannya adalah bahwa setiap daerah memiliki ke-khasan sendiri-sendiri dalam rasa Nasi Uduk yang dibuatnya.

 

Sepanjang pengamatan saya, kenapa ada trade mark Nasi Uduk Betawi ?, kelihatannya memang kebanyakan yang jual Nasi Uduk adalah roang-roang Betokaww… (orang-orang Betawi), jadi untuk menunjukkan identitasnya ditulislah pada kain warung tendanya dengan tulisan ‘Nasi Uduk Betawi’, trust di belakangnya ditambahkan dengan identitas nama penjualnya, misalnya Bang Mardun, Mpok Sopiah, Bang Nirin, Bang Syafei, Mpok Siti.

 

Sehingga kalau boleh saya deretkan terpampanglah tulisan-tulisan pada kain di warung-warung tenda itu dengan tulisan :

 

Nasi Uduk Betawi Bang Mardun…

Nasi Uduk Betawi Mpok Sopiah…

Nasi Uduk Betawi Bang Nirin…

Nasi Uduk Betawi Bang Syafei…

Nasi Uduk Betawi Mpok Siti…

………

Daftar berikutnya adalah tergantung siapa nama penjualnya yang akan buka warung Nasi Uduk Betawi tersebut.

………

Udah ahh.., saya sudah lapar  mau makan Nasi Uduk dulu , di warung Nasi Uduk Betokaww… Mpok Nori di depan pintu gerbang komplek..

 

Aya..aya..wae…

 

Mei 2008

 

Manaqib April 2008

 

 

Jum’at, 18 April 2008 adalah hari yang berbahagia bagi saya karena saya berencana usai pulang kantor nanti akan pergi ke Tasikmalaya untuk mengikuti Manaqiban bulan April 2008 di Suryalaya, terbayang dalam benak saya akan berjumpa dengan Sang Mursyid tercinta, yang Mulia KH Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin – Pangersa Abah Anom – Mursyid Thoriqot Qaadiriyyah Wan Naqsyabandiyyah (suatu Thoriqot yang mengamalkan dzikir Djahar dan dzikir Khafi, sesuai tuntunan Guru Mursyid).

 Rencana pulang Teng-Ber rupanya gagal.., karena 30 menit sebelum usai kerja, saya dipanggil oleh atasan saya yang menanyakan tentang laporan yang berasal dari suatu program aplikasi enterprise produk salah satu vendor terkenal di dunia.

 Alhasil saya mempersilahkan rekan kantor saya yang bawa kendaraan untuk pulang lebih dulu, tadinya saya akan ikut menumpang hingga daerah cakung – untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Bekasi Timur, karena saya sudah janjian dengan kakak ipar untuk menunggu di gerbang tol Bekasi Timur, untuk ikut pergi bersama-sama Manaqiban di Suryalaya.

Wah…bagaimana ini ? sampai jam berapa saya bisa sampai di Bekasi Timur ? Lillaahi Taala saja deh…, ambil sisi positifnya saja, mungkin ini rencana Allah yang kita tidak tahu..

Jam 19.00 saya  baru keluar meninggalkan pabrik (usai shalat maghrib lebih dulu) ikut teman yang bawa motor hingga perempatan Cipondoh. Tiba di perempatan Cipondoh sekitar jam 19:15 wib, saya tunggu Bis Arimbi yang menuju Bekasi tidak muncul-muncul juga, ataupun bis Agra yang jurusan Cikarang (rencananya jika naik bis Agra, saya akan turun di tepian tol Bekasi Timur).

Akhirnya jam 19:45 saya putuskan untuk pergi ke pool Arimbi di Cikokol, naik angkot dari perempatan Cipondoh. Melewati pool bis Budiman terlihat ada 1 bis Budiman yang masih terparkir, tetapi kelihatan sepi tidak ada tanda-tanda akan ada pemberangkatan.

Tiba di pool bis Arimbi jam 20.00 wib, terlihat bis yang akan ke Bandung dan yang akan ke Merak. 30 menit saya menunggu hingga jam 20.30 tidak muncul-muncul juga bis jurusan Bekasi, akhirnya saya tanyakan ke salah satu awak bis Arimbi, “bis yang jurusan Bekasi masih ada Pak…?”, jawabnya : “oh..sudah jam 20.00 wib sudah tidak ada Pak…, bapak ke tol Kebon Jeruk saja nanti naik bis Bekasi yang dari Merak, katanya….”

Wah bagaimana ini ? saya berpikir keras…, saya kontak lagi ke kakak ipar saya menginformasikan tentang situasi saya di jalan saat ini…

Akhirnya saya dapat ide…., saya naik bis ke Bandung saja…nanti turun di km 88, salah satu rest area di tol Cipularang tempat kontrol bis jurusan Bandung.

Saya telepon kakak ipar saya untuk janjian ketemuan di km 88 tol Cipularang..

Saya tanyakan ke sopir Bandung tadi, “bisa turun di km 88 Pak…?, dijawab olehnya.. “ Wah sekarang sudah tidak mampir di km 88 lagi Pak…”, akhirnya saya bernego dengan sopir untuk bisa turun di km 88 sambil lihat situasi di jalan apakah ada petugas atau tidak…,karena jika ketahuan oleh petugas karena menaikkan dan menurunkan penumpang di jalan tol sangsinya cukup besar juga…”

Alkisah dalam perjalanan akhirnya saya bisa turun di km 42 tol Cikampek, itupun setelah berpikir cepat ambil keputusan, setelah Pak sopir membelokkan bisnya untuk isi bensin (hal ini tanpa saya rencanakan sebelumnya, alhamdulillah Allah memberikan jalan keluar untuk saya..)

Saya call kakak ipar saya, bahwa saya turun di km 42 tol cikampek, tolong jemput saya di sana, setelah menunggu hanya sekita 15 menit, akhirnya kakak ipar saya tiba, terlihat ada 2 rekannya yang sama-sama akan ikut Manaqib di Suryalaya, sehingga ada 4 penumpang di mobil Innova vvti tersebut, cukup nyaman juga..

Langsung … The Tarix..Jabrix..menuju Suryalaya..

Selama perjalanan di jalan tol, kami bercakap-cakap / berdiskusi mengenai ceramah yang disampaikan oleh salah satu pembicara di radio yang disetel di mobil.

Setelah meninggalkan pintu tol Padalarang Barat, rasanya perut sudah mulai keroncongan minta diisi..,akhirnya kita keluar tol Mohamad Toha untuk mampir ke RM Ampera dekat terminal Leuwi Panjang, tepat jam 00.00 wib kita tiba di RM Ampera.

Pak Yanto dan saya saling tunjuk makanan yang akan pilih, makan Gurame goreng sepertinya nikmat sekali dimakan dimalam yang dingin.. di Bandung lagi….

Alhamdulillah Allah begitu banyak memberikan kenikmatan bagi kami semua dalam perjalanan ini, sambil kita menikmati makan malam, kita banyak ngobrol-ngobrol seputar pengamalan dzikir TQN (Thoriqat Qoodiriyyah Wan Naqsyabandiyyah).

Usai makan saya pesan jeruk hangat, Pak Yanto pilih kopi tubruk…

Setelah shalat isya di Rumah Makan, kami melanjutkan kembali perjalanan ke Suryalaya, saat itu tepat jam 01.00 wib. Saya telepon adik ipar saya yang akan ikut ke Suryalaya juga, untuk menunggu di pintu keluar Tol Cileunyi, sehingga begitu kami tiba di pintu keluar tol Cileunyi, adik ipar saya bisa cepat naik ke mobil.

Selama perjalanan saya tertidur, baru terbangun ketika sudah tiba di Pamoyanan, Alhamdulillah…

Pak Yanto (Ustad Yanto) langsung membaca doa untuk Guru Mursyid tercinta kami KH Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin – Pangersa Abah Anom. Sungguh indah pemandangan malam ketika itu dari Pamoyanan hingga Suryalaya.

Akhirnya kami tiba tepat jam 02.30 wib, Pak Yanto langsung mengajak kita pergi kesatu rumah untuk istirahat dulu di sana, mandi atau lain-lain…

Saat itu di pelataran Masjid Nurul Asror sudah banyak jamaah yang hadir.

Saya mandi jam 03.00 ,wuw….seggaar bangeet…..,airnya bagus.., jernih…., dan barokah…karena Air, Tumbuhan, Tanah, Lingkungan yang ada disekitarnya memiliki Barokah yang besar sebab selalu mendapatkan / mendengarkan kalimat dzikir LAA ILAAHA ILLALAH…

Tepat jam 04.00 kami keluar rumah menuju masjid Nurul Asror guna menunaikan shalat Subuh berjamaah. Setelah shalat langsung Dzikir LAA ILAAHA ILLALAH…

Setelah dzikir, jamaah langsung bangun berlari seperti berebutan untuk mengantri di muka madrasah untuk sowan ke Pangersa Abah, dalam sekejap area depan madrasah langsung penuh dengan jamaah yang mengantri untuk berjumpa dengan sang Mursyid tercinta KH Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin – Pangersa Abah Anom.

Akupun ikut mengantri, suatu bentuk perjuangan ingin jumpa dengan Guru Mursyid tercinta, setelah 1 jam mengantri akhirnya saya bisa sowan ke Pangersa Abah, hati ini rasanya luluh begitu mulai memasuki pintu madrasah, terlihat Pangersa Abah dalam posisi Tawajuh, ya Allah… Alhamdulillah hamba bisa menemui Pangersa Abah secara fisik, Aku pegang dan Aku cium tangan Pangersa Abah yang dibalut dengan kain, sambil tangan kiri memegang botol air yang Aku hajatkan untuk kesembuhan Ibu hamba yang sedang sakit, serta untuk kesehatan dan kebahagiaan anak-anak dan istri hamba dirumah…

Ya Allah terima kasih atas rezeki yang Engkau limpahkan kepada Hamba…

Usai sowan ke Pangersa Abah, sambil menunggu waktu Manaqib, saya dan adik iparku jalan-jalan ke Pasar kaget untuk mencari peci hitam untuk-ku, sambil lihat buku-buku dan majalah baru tentunya.

Manaqib dimulai, yang membaca tanbih adalah Ajengan Arief Ichwanie sedangkat khidmat Manaqib oleh Ajengan Gaos yang menggantikan Ajengan Zaenal Abidin yang sedang sakit.

Usai Manaqib, dibacakanlah Shalawat Bani Hasyim, saya  tidak kuat untuk menahan tetesan air mata, jikalau shalawat Bani Hasyim sudah dikumandangkan di Suryalaya, terasa haru hati ini, sehingga selalu tidak kuat untuk menahan tetesan air mata..

Saya lihat para Ajengan masih saling bersalaman, ada Ajengan Arief Bandung, Ajengan Zezen Sukabumi, Ajengan Gaos Ciamis, Ust Siradjudin Tangerang, dan Pak Ustad Yanto juga ada / ikut di pelataran tempat para Ajengan berkumpul saat Manaqib.

Setelah itu saya shalat dhuha terlebih dahulu, dan mulailah berburu buku-buku di Suryalaya, saya membeli buku karya Ajengan Gaos yang berjudul “Lautan Tanpa Tepi” – Kajian Pembuka Hati, bagus sekali buku ini.

Sabtu,19 April 2008 jam 10.30 wib kami rombongan pulang bersama, seperti biasanya obrolan menjadi menarik dengan adanya Pak Yanto.

Saat mendekati pintu gerbang Suryalaya, saya ketemu dengan Pak Jajang yang selalu berkomunikasi dengan saya via e-mail, saya selalu konfirmasi ke Pak Jajang jika ada sesuatu yang ingin ditanyakan perihal kegiatan di Suryalaya. Alhamdulillah bisa ketemu langsung dengan Pak jajang secara fisik, setelah bincang-bincang beberapa saat, akhirnya sayapun pamitan untuk pulang…

Nuhun Pak Jajang atas informasinya selama ini….

Jam 12.00 wib kami mampir shalat dzuhur dulu di masjid Nagrek, dzikir, lalu makan siang. Saya makan sop kaki sapi, wah nikmatnya, perut yang tadinya dingin terasa  hangat, setelah itu minum STMJ, jadi tambah hangat lagi.

Saya dan adik iparku turun di Cinunuk, untuk langsung pulang ke rumah, kakak iparku, Pak Yanto, Pak Widodo, dan Pakde langsung ,meluncur ke Bekasi.

Suatu perjalanan spiritual yang penuh kenangan, dan insya Allah Mei bulan depan saya niatkan untuk menghadiri kembali Manaqiban di Suryalaya.

 

 

Insya Allah…..

April 2008

 

 

 

 

 

 

Gerlong Yang Penuh Kenangan

Gerlong (Geger Kalong) adalah sebuah daerah di kota Bandung, khususnya Bandung Utara yang dapat dikatakan masih berhawa sejuk, karena lokasinya yang berada di atas, hal ini bisa kita rasakan jika kita mulai masuk dari Jl Cipaganti – Jl Setiabudi jalannya menaanjaak… teruus…, ataupun bila kita mulai masuk dari Jl Pasir Kaliki – Jl Sukajadi – Jl. Setiabudi, pasti deh…!! dijamin jalannya nanjak terus…., Hidup Persib !!

 

Dengan kondisi geografis seperti yang saya sebutkan tadi maka tidak heran jika daerah Bandung Utara (diantaranya Gerlong) banyak didirikan Hotel-hotel maupun Apartemen ataupun wisma-wisma untuk tempat peristirahatan. Selain Gerlong, kawasan Bandung Utara lainya yang banyak didirikan tempat peristirahatan adalah Dago.

Dago.. gitu loh…

 

Selain Gerlong (Geger Kalong) dan Dago, sudah tentu….Lembang yang menjadi pilihan utama untuk beristirahat. Lembang…, selain menjadi tujuan utama orang-orang Jakarta yang ingin plesir di Bandung, juga menjadi tujuan orang Bandung sendiri jika ingin melepas lelah / kepenatan, terutama Sabtu – Minggu ramai sekali lalulintas ke arah Lembang.

 

Lembang masih di atas Dago dan Gerlong, lokasinya dari Gerlong terus naik ke atas, melewati Ledeng, sampai deh.. di Lembang..,disana kita bisa makan jagung bakar, sate kelinci, bandrek, bajigur, e te ce (etc) lah…

 

Kembali ke Gerlong (Geger Kalong), kenapa Gerlong memberikan kenangan bagi saya ?

Setiap minggu saya pulang ke Bandung, karena keluarga ada di Bandung. Sampai di Bandung pada Jum’at malam (bahkan Sabtu dinihari, jika ada jadwal ngajar) – Senin subuh berangkat kerja lagi ke Tangerang.

 

Diantara hal yang berkesan bagi saya adalah ketika turun dari bis di Pasir Koja (Holis) lanjut naik angkot jurusan Dago dan turun di pasar Ciroyom (walaupun sebenarnya kalau malam hari angkot Caringin – Dago itu tidak full sampai Dago, tetapi hanya sampai pasar Ciroyom saja).  Di pasar Ciroyom saya biasa beli sayur-sayuran (untuk lalapan), tempe, krupuk, bahkan kalau sedang musim buah-buahan, saya beli buah-buahan, nikmat..sekali…, Sabtu paginya di gorenglah tempe itu ditemani dengan lalapan sayur…,Alhamdulillah nikmat sekali…

 

Suasana pasar Ciroyom sudah sangat akrab dengan saya karena setiap minggu pasti saya lewat dan mampir di sana. Hiruk pikuk kesibukan orang di pasar waktu malam hari menjadi    daya tarik tersendiri bagi saya untuk turut serta ikut ambil bagian dalam kegiatan mereka, sehingga tidak jarang, setelah saya ‘belanja’ saya sempatkan makan bubur ayam atau indomie atau kupat tahu dulu di sana…minumnya teh hangat…., wuih…nikmaaat sekali..

 

Apalagi jika kita sampai pasar jam 03.30 wib pasti ketemu dengan ibu-ibu yang jualan jajanan pasar yang jenisnya macam-macam, saya sempatkan beli beberapa kue jajanan pasar di sana..seperti, tahu, gemblong, misro (amis di jero), bacang, cendil, e te ce (etc) lah…, nikmaaaat sekali…,.

 

Bersyukurlah kita yang masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk mengalami hal-hal ini, karena belum tentu setiap orang bisa mengalami hal seperti ini, terima kasih ya Allah.., karena ditengah perjuangan saya berpisah dengan keluarga, Engkau selipkan beberapa nikmat kepada hambamu ini, sehingga Engkau berikan satu peluang bagi hamba untuk menyatakan / merasakan syukur atas nikmat tersebut…

 

Setelah pasar Ciroyom, kenangan indah yang berikutnya adalah, jika Sabtu pagi saya selalu mengantar si Bungsu (Neng Geulis cantiknya..) jalan-jalan, karena setiap hari Sabtu TK At Taqwa KPAD Gerlong (Komplek Perumahan Angkatan Darat – tempat si Bungsu sekolah) libur, sehingga  saya bisa bersama-sama dengan ‘Neng Geulis cantiknya..’ main-main pada hari Sabtu dan Minggu-nya, sedangkan kakaknya (Fakhri dan Fairuz) pada hari Sabtu tetap masuk sekolah di SDPN Setiabudi – kampus UPI).

 

 

Tempat main favorit ‘Neng Geulis’ dan Bapaknya (he..he.., saya maksudnya..) diantaranya adalah di lapangan KPAD, kampus UPI – sekolah kakak-kakaknya, dan SMM (Super Mini Market) DT. Biasanya sebelum pergi ke tempat yang lain, pasti ‘Neng Geulis’ minta diantar ke SMM DT dulu, tebak hayo..kenapa..? cari aja jawabannya sendiri…he..he..

 

Siangnya, ketika kakak-kakaknya ‘Neng Geulis’ pulang sekolah, pasti deh… kita semua mau ke Café Badrun, biaasaa…. es campur dan bakso deh…tujuannya, kenapa Café Badrun ? soalnya muraah sich…,kualitasnya baik, bersih makanannya dan bersih pula orangnya…,sehingga kita yakin akan kebersihan semuanya, apalagi jika tiba waktu shalat, pasti deh..Cafe Badrun tutup, setelah itu baru deh buka lagi…, semoga Barokah..

 

Petang hari biasanya yang nomor 2 (Fairuz) ngajak main bola di lapangan KPAD, biasanya kita ber-empat : saya, anak yang paling besar (Fakhri), Fairuz, dan ‘Neng Geulis’ pergi ke lapangan KPAD, sedangkan ibunya anak-anak (mantan pacar saya) biasanya masih berada di kampus Dago. O iya….”Neng Geulis cantiknya ..” namanya siapa ya…? belum dikenaalkaan…, ini lho..nama saya Fakhira Ghina Annisa, kesenangan saya adalah membaca, belajar dan memasak, sama seperti Ummi Aku, senang belajar dan memasak….

 

 

Setelah main bola, kalau tidak cape, kita shalat maghrib di DT atau di masjid At Taqwa KPAD, seringnya sich di DT, karena anak-anak senang shalat di sana, karena suasananya waktu itu sangat meriah dan ramai, terutama hari Sabtu dan Minggu, sehingga usai shalat maghrib – sambil menunggu tibanya waktu shalat Isya, biasanya kita duduk-duduk di pelataran samping SMM sambil ngemil apa saja, nikmat sekali waktu itu…., kadangkala kita juga beli susu segar hangat rasa apa saja, coklat, strawberry, vanily, e te ce (etc) hmmm…….makan lagi – makan lagi…., memang rugi sich..kalau ke Bandung gak hunting makanan…,sayang n rugi gitu loh…..!!, makanya kadangkala teman-teman kantor banyak yang suka nitip belikan makanan kalau saya ke Bandung, kalau kebetulan bawa mobil sich..gak repot..,but.. kalau kebetulan naik bis, saya harus pegangin itu yang namanya Brownies dari Bandung ke Tangerang, sehingga gak bisa tidur (tapi gak apa-apa sich).

 

 

Karena pernah ada satu kasus di bis, ada penumpang yang bawa Brownies, disimpan di bagasi atas dalam bis, ketika sampai di tol cipularang… itu yang namanya Brownies jatuu…hh berantakan… (aya aya wae…), karena tol Cipularang itu khan landasanya dibuat bukan menggunakan aspal halus tapi masih menggunakan beton, sehingga kalau dilewati oleh kendaraan akan dirasakan kasar / besar guncangannya…., itulah sedikit cerita tentang tragedi Brownies ambruk…!!, he..he..he..

 

Kembali lagi ke Gerlong (Geger Kalong), hari Minggu pagi kalau kebetulan saya tidak capai sekali, saya mengantar Fakhri (Fakhri Abdullah Azzam) & Fairuz (Fairuz Hibatullah Akbar) latihan sepakbola di kampus UPI (SSB Bumi Siliwangi) mulai jam 07.00 wib s/d jam 10.00 wib, seperti biasanya kalau hari Minggu pagi suasana di lapangan BumSil (Bumi Siliwangi) selalu ramai dengan orang-orang yang berolahraga, baik didalam lapangan sepakbola UPI maupun area sekitarnya. Seperti biasanya berlaku istilah  ”ada gula ada semut…” ngerti khan artinya..? “tukang jualannya juga banyak !”, tapi tidak sebanyak Gabisu sich.., eh maaf maksudnya Gasibu.

 

Siangnya kalau lagi ada keperluan, kita pergi ke Griya Setiabudi, atapun Borma Setiabudi, bahkan ke Pasar Baru. Paling seneng kalau ke Pasar Baru naik mobil elf warna krem yang ruangannya terasa lega…,enak..gak panas.., saat ini di Bandung panas pisan euy…selain sudah banyak bangunannya, orangnya, e te ce (etc), juga sebagai dampak dari apa yang kata orang-orang bilang “Global Warming” (Pemanasan Global), awas ! bedakan yach dengan “Warming Up”, kalau “Warming Up”  itu adalah “Warming” di “Up-Up” artinya !, “Panas yang diangkat-angkat”  he..he..he.. ngawur bahasanya….

 

Yang benar istilah “Warming Up” itu adalah jika kita ingin main bola atau main volley, e te ce (etc), badannya harus panas dulu.., tidak boleh langsung main, khawatir badannya / ototnya sakit, karena badan / otot belum lentur, karenanya untuk melenturkan badan / otot kita harus melakukan gerakan-gerakan persiapan sebelum bermain bola atau main volley, e te ce (etc), dengan adanya gerakan-gerakan  persiapan tsb badan kita mulai terasa panas dan mengeluarkan keringat, dan badan / otot mulai lentur, kira-kira demikian mungkin penjelasan mengenai “Warming Up”..

 

Kembali lagi ke Gerlong (Geger Kalong), kenapa sich disebut Geger Kalong ? mungkin ceritanya begini…. Menurut shahibul hikayat, daerah Gerlong itu khan di atas (daerah tinggi) dan banyak pohon-pohon besar (hal ini bisa kita lihat di KPAD – Kompkek Perumahan Angkatan Darat), bisa kita lihat pohon-pohon besar itu di sepanjang sisi jalan komplek maupun disekitar lapangan KPAD, dan di pohon-pohon besar itu banyak bersarang para Kalong / Kelelawar yang kalau sedang berterbangan bersama-sama bisa menimbulkan Geger….(suara berisik / heboh), jadilah daerah itu disebut Gerlong = Geger Kalong = Rombongan Kalong-kalong yang menimbulkan suara heboh / geger / berisik), sehingga pada suatu acara yang diadakan di KPAD, pada pintu masuk utama KPAD dari arah Jl Geger Kalong Hilir, dipasang miniature patung Kalong Hitam yang cukup besar (aya aya wae….)

 

O iya ada dua cerita lagi yang menarik yaitu, cerita pada saat acara perpisahan sekolah (kelas 6) Fakhri & Fairuz di SDPN Setiabudi, dan acara Kreasi Seni di TK At Taqwa Fakhira, anak-anakku semuanya memberikan kejutan yang tidak disangka-sangka oleh ke-dua orang tuanya.

 

 

Saat acara perpisahan sekolah SDPN Setiabudi ternyata anakku Fakhri tampil ngisi acara dengan grup Band-nya, Fakhri pegang Bass (Bapaknya juga dulu waktu muda pegang Bass – bawakan lagu-lagu The Beatles), aku bingung… ini anak kapan belajar Bassnya…? Karena Gitar kenanganku masih ku simpan di rumah Jakarta…, belum dibawa ke Bandung…, oo.. ternyata info yang kudapat rupanya Fakhri belajar Bass bersama teman-teman sekolahnya usai pulang sekolah…

Nama lengkap Fakhri adalah “Fakhri Abdullah Azzam”.

 

Kekagetanku yang kedua adalah tentang Fairuz (adiknya Fakhri yang 1), ternyata Fairuz ikut tampil juga ngisi acara, yaitu bersama grup Angklungnya. Dalam formasi penampilannya, Fairuz berdiri pada deretan depan paling kiri, menggunakan baju berwarna kuning..

 

 

Khusus Fairuz, ia anak yang sangat berbakat seni, ia anaknya pendiam (seperti ibunya), sehingga waktu sekolah TK dulu mendapatkan julukan dari sekolahnya “Si Pendiam Yang Sabar..”. Jika Fairuz sedang menyanyi / bersenandung, pasti kita ingin ia mengulangi lagi lagunya, karena sangat menikmati suaranya yang pass banget….! (seperti iklan salah satu produk kopi, he..he..), selain itu, Fairuz sangat menyukai hal-hal kecil, rumit, dan mendetail, contohnya kalau bermain pasti mainannya itu memiliki sistem kerja yang rumit, ia perhatikan sistem kerjanya bagaimana, dan lain sebagainya, sehingga diantara ke-3 anakku ini, Fairuz-lah yang mainannya paling banyak.

Nama lengkap Fairuz adalah “Fairuz Hibatullah Akbar”.

 

 Cerita satu lagi adalah pada acara kreasi seni sekolah TK At Taqwa Fakhira, kejutan itu aku alami lagi ketika ada acara “Pagelaran Busana Muslimah”. Eh..ternyata ‘Neng Geulis Cantiknya..” ini ikut ambil bagian sebagai peserta pada pagelaran busana ini. Aku dan Istriku sungguh sangat kaget dan tidak menduga jika ‘Neng Geulis Cantiknya..” berani tampil di panggung, karena yang kami tahu jika disekolah, Fakhira ini sepertinya pemalu dan pendiam, gurunya-pun bilang seperti itu, tetapi pada hari itu Aku dan Istriku sungguh kaget sekali dengan penampilan Fakhira di panggung itu…

Nama lengkap Fakhira adalah “Fakhira Ghina Annisa”.

 

 

Demikianlah… sedikit cerita tentang kenangan kami di Gerlong (Geger Kalong), karena pada saat ini kami sudah meninggalkan Gerlong (Geger Kalong), pindah ke daerah Bandung bagian Timur, untuk mendekati sekolahnya anak-anak yang baru agar tidak jauh dari rumah.  Si Bungsu ‘Neng Geulis cantiknya..’ sudah kelas 1 SD, Fairuz kakaknya sudah kelas 5 SD, kakaknya yang paling besar yaitu Fakhri sudah kelas 1 SMP.

 

Salam…..untuk Gerlong Yang Penuh Kenangan….

 

April 2008