Manaqib April 2008

 

 

Jum’at, 18 April 2008 adalah hari yang berbahagia bagi saya karena saya berencana usai pulang kantor nanti akan pergi ke Tasikmalaya untuk mengikuti Manaqiban bulan April 2008 di Suryalaya, terbayang dalam benak saya akan berjumpa dengan Sang Mursyid tercinta, yang Mulia KH Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin – Pangersa Abah Anom – Mursyid Thoriqot Qaadiriyyah Wan Naqsyabandiyyah (suatu Thoriqot yang mengamalkan dzikir Djahar dan dzikir Khafi, sesuai tuntunan Guru Mursyid).

 Rencana pulang Teng-Ber rupanya gagal.., karena 30 menit sebelum usai kerja, saya dipanggil oleh atasan saya yang menanyakan tentang laporan yang berasal dari suatu program aplikasi enterprise produk salah satu vendor terkenal di dunia.

 Alhasil saya mempersilahkan rekan kantor saya yang bawa kendaraan untuk pulang lebih dulu, tadinya saya akan ikut menumpang hingga daerah cakung – untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Bekasi Timur, karena saya sudah janjian dengan kakak ipar untuk menunggu di gerbang tol Bekasi Timur, untuk ikut pergi bersama-sama Manaqiban di Suryalaya.

Wah…bagaimana ini ? sampai jam berapa saya bisa sampai di Bekasi Timur ? Lillaahi Taala saja deh…, ambil sisi positifnya saja, mungkin ini rencana Allah yang kita tidak tahu..

Jam 19.00 saya  baru keluar meninggalkan pabrik (usai shalat maghrib lebih dulu) ikut teman yang bawa motor hingga perempatan Cipondoh. Tiba di perempatan Cipondoh sekitar jam 19:15 wib, saya tunggu Bis Arimbi yang menuju Bekasi tidak muncul-muncul juga, ataupun bis Agra yang jurusan Cikarang (rencananya jika naik bis Agra, saya akan turun di tepian tol Bekasi Timur).

Akhirnya jam 19:45 saya putuskan untuk pergi ke pool Arimbi di Cikokol, naik angkot dari perempatan Cipondoh. Melewati pool bis Budiman terlihat ada 1 bis Budiman yang masih terparkir, tetapi kelihatan sepi tidak ada tanda-tanda akan ada pemberangkatan.

Tiba di pool bis Arimbi jam 20.00 wib, terlihat bis yang akan ke Bandung dan yang akan ke Merak. 30 menit saya menunggu hingga jam 20.30 tidak muncul-muncul juga bis jurusan Bekasi, akhirnya saya tanyakan ke salah satu awak bis Arimbi, “bis yang jurusan Bekasi masih ada Pak…?”, jawabnya : “oh..sudah jam 20.00 wib sudah tidak ada Pak…, bapak ke tol Kebon Jeruk saja nanti naik bis Bekasi yang dari Merak, katanya….”

Wah bagaimana ini ? saya berpikir keras…, saya kontak lagi ke kakak ipar saya menginformasikan tentang situasi saya di jalan saat ini…

Akhirnya saya dapat ide…., saya naik bis ke Bandung saja…nanti turun di km 88, salah satu rest area di tol Cipularang tempat kontrol bis jurusan Bandung.

Saya telepon kakak ipar saya untuk janjian ketemuan di km 88 tol Cipularang..

Saya tanyakan ke sopir Bandung tadi, “bisa turun di km 88 Pak…?, dijawab olehnya.. “ Wah sekarang sudah tidak mampir di km 88 lagi Pak…”, akhirnya saya bernego dengan sopir untuk bisa turun di km 88 sambil lihat situasi di jalan apakah ada petugas atau tidak…,karena jika ketahuan oleh petugas karena menaikkan dan menurunkan penumpang di jalan tol sangsinya cukup besar juga…”

Alkisah dalam perjalanan akhirnya saya bisa turun di km 42 tol Cikampek, itupun setelah berpikir cepat ambil keputusan, setelah Pak sopir membelokkan bisnya untuk isi bensin (hal ini tanpa saya rencanakan sebelumnya, alhamdulillah Allah memberikan jalan keluar untuk saya..)

Saya call kakak ipar saya, bahwa saya turun di km 42 tol cikampek, tolong jemput saya di sana, setelah menunggu hanya sekita 15 menit, akhirnya kakak ipar saya tiba, terlihat ada 2 rekannya yang sama-sama akan ikut Manaqib di Suryalaya, sehingga ada 4 penumpang di mobil Innova vvti tersebut, cukup nyaman juga..

Langsung … The Tarix..Jabrix..menuju Suryalaya..

Selama perjalanan di jalan tol, kami bercakap-cakap / berdiskusi mengenai ceramah yang disampaikan oleh salah satu pembicara di radio yang disetel di mobil.

Setelah meninggalkan pintu tol Padalarang Barat, rasanya perut sudah mulai keroncongan minta diisi..,akhirnya kita keluar tol Mohamad Toha untuk mampir ke RM Ampera dekat terminal Leuwi Panjang, tepat jam 00.00 wib kita tiba di RM Ampera.

Pak Yanto dan saya saling tunjuk makanan yang akan pilih, makan Gurame goreng sepertinya nikmat sekali dimakan dimalam yang dingin.. di Bandung lagi….

Alhamdulillah Allah begitu banyak memberikan kenikmatan bagi kami semua dalam perjalanan ini, sambil kita menikmati makan malam, kita banyak ngobrol-ngobrol seputar pengamalan dzikir TQN (Thoriqat Qoodiriyyah Wan Naqsyabandiyyah).

Usai makan saya pesan jeruk hangat, Pak Yanto pilih kopi tubruk…

Setelah shalat isya di Rumah Makan, kami melanjutkan kembali perjalanan ke Suryalaya, saat itu tepat jam 01.00 wib. Saya telepon adik ipar saya yang akan ikut ke Suryalaya juga, untuk menunggu di pintu keluar Tol Cileunyi, sehingga begitu kami tiba di pintu keluar tol Cileunyi, adik ipar saya bisa cepat naik ke mobil.

Selama perjalanan saya tertidur, baru terbangun ketika sudah tiba di Pamoyanan, Alhamdulillah…

Pak Yanto (Ustad Yanto) langsung membaca doa untuk Guru Mursyid tercinta kami KH Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin – Pangersa Abah Anom. Sungguh indah pemandangan malam ketika itu dari Pamoyanan hingga Suryalaya.

Akhirnya kami tiba tepat jam 02.30 wib, Pak Yanto langsung mengajak kita pergi kesatu rumah untuk istirahat dulu di sana, mandi atau lain-lain…

Saat itu di pelataran Masjid Nurul Asror sudah banyak jamaah yang hadir.

Saya mandi jam 03.00 ,wuw….seggaar bangeet…..,airnya bagus.., jernih…., dan barokah…karena Air, Tumbuhan, Tanah, Lingkungan yang ada disekitarnya memiliki Barokah yang besar sebab selalu mendapatkan / mendengarkan kalimat dzikir LAA ILAAHA ILLALAH…

Tepat jam 04.00 kami keluar rumah menuju masjid Nurul Asror guna menunaikan shalat Subuh berjamaah. Setelah shalat langsung Dzikir LAA ILAAHA ILLALAH…

Setelah dzikir, jamaah langsung bangun berlari seperti berebutan untuk mengantri di muka madrasah untuk sowan ke Pangersa Abah, dalam sekejap area depan madrasah langsung penuh dengan jamaah yang mengantri untuk berjumpa dengan sang Mursyid tercinta KH Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin – Pangersa Abah Anom.

Akupun ikut mengantri, suatu bentuk perjuangan ingin jumpa dengan Guru Mursyid tercinta, setelah 1 jam mengantri akhirnya saya bisa sowan ke Pangersa Abah, hati ini rasanya luluh begitu mulai memasuki pintu madrasah, terlihat Pangersa Abah dalam posisi Tawajuh, ya Allah… Alhamdulillah hamba bisa menemui Pangersa Abah secara fisik, Aku pegang dan Aku cium tangan Pangersa Abah yang dibalut dengan kain, sambil tangan kiri memegang botol air yang Aku hajatkan untuk kesembuhan Ibu hamba yang sedang sakit, serta untuk kesehatan dan kebahagiaan anak-anak dan istri hamba dirumah…

Ya Allah terima kasih atas rezeki yang Engkau limpahkan kepada Hamba…

Usai sowan ke Pangersa Abah, sambil menunggu waktu Manaqib, saya dan adik iparku jalan-jalan ke Pasar kaget untuk mencari peci hitam untuk-ku, sambil lihat buku-buku dan majalah baru tentunya.

Manaqib dimulai, yang membaca tanbih adalah Ajengan Arief Ichwanie sedangkat khidmat Manaqib oleh Ajengan Gaos yang menggantikan Ajengan Zaenal Abidin yang sedang sakit.

Usai Manaqib, dibacakanlah Shalawat Bani Hasyim, saya  tidak kuat untuk menahan tetesan air mata, jikalau shalawat Bani Hasyim sudah dikumandangkan di Suryalaya, terasa haru hati ini, sehingga selalu tidak kuat untuk menahan tetesan air mata..

Saya lihat para Ajengan masih saling bersalaman, ada Ajengan Arief Bandung, Ajengan Zezen Sukabumi, Ajengan Gaos Ciamis, Ust Siradjudin Tangerang, dan Pak Ustad Yanto juga ada / ikut di pelataran tempat para Ajengan berkumpul saat Manaqib.

Setelah itu saya shalat dhuha terlebih dahulu, dan mulailah berburu buku-buku di Suryalaya, saya membeli buku karya Ajengan Gaos yang berjudul “Lautan Tanpa Tepi” – Kajian Pembuka Hati, bagus sekali buku ini.

Sabtu,19 April 2008 jam 10.30 wib kami rombongan pulang bersama, seperti biasanya obrolan menjadi menarik dengan adanya Pak Yanto.

Saat mendekati pintu gerbang Suryalaya, saya ketemu dengan Pak Jajang yang selalu berkomunikasi dengan saya via e-mail, saya selalu konfirmasi ke Pak Jajang jika ada sesuatu yang ingin ditanyakan perihal kegiatan di Suryalaya. Alhamdulillah bisa ketemu langsung dengan Pak jajang secara fisik, setelah bincang-bincang beberapa saat, akhirnya sayapun pamitan untuk pulang…

Nuhun Pak Jajang atas informasinya selama ini….

Jam 12.00 wib kami mampir shalat dzuhur dulu di masjid Nagrek, dzikir, lalu makan siang. Saya makan sop kaki sapi, wah nikmatnya, perut yang tadinya dingin terasa  hangat, setelah itu minum STMJ, jadi tambah hangat lagi.

Saya dan adik iparku turun di Cinunuk, untuk langsung pulang ke rumah, kakak iparku, Pak Yanto, Pak Widodo, dan Pakde langsung ,meluncur ke Bekasi.

Suatu perjalanan spiritual yang penuh kenangan, dan insya Allah Mei bulan depan saya niatkan untuk menghadiri kembali Manaqiban di Suryalaya.

 

 

Insya Allah…..

April 2008

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s